Jumat, 07 November 2014

LIDANG SINTA MUTIARA @Sinta_Mutiara [RFM TANGERANG]



Bangunlah jiwanya... Bangunlah badannya.., untuk Indonesia raya...
Begitu lagu 'Indonesia Raya' ciptaan W.R Supratman itu selesai aku langsung menghembuskan nafas ku, huft... Lega. Sialan, menjadi pemimpin paduan suara pas Upacara memang menguji nyali dan adrenalin! Dan sialan lagi, aku yang bukan berasal dari ekskul yang berbau musik harus jadi korban gara-gara tak ada satupun manusia di kelasku yang sudi menjadi pemimpin paduan suara.
"Lo tadi keren!" Kata Putri, salah satu sahabatku disekolah dengan nada setengah tulus setengah nahan ketawa.
"Tapi gue ngakak pas ngeliat muka lo, abis kayak nahan boker."
Sialan.
***
Begini urutannya, SMA Negeri 1 Kota Tangerang adalah SMA terbaik di Kota Industri atau biasa dikenal sebagai Kota Tangerang, ya-ya-ya. Everybody knew it, termaksud aku. Yang kedua adalah SMAN 2 lalu SMAN 8--ssst, SMA ini adalah sekolah salah satu teman RFM ku menimba ilmu, siapa lagi kalau bukan Ranita dan Kak Arif pocong?-- dan ke 4 SMAN 7 lalu barulah sekolah ku yaitu SMAN 3.
Sebenarnya, masuk ke salah satu SMAN unggulan di sekitar rumah bukanlah suatu kebanggaan buatku, karena pada dasarnya yang aku pengen adalah bersekolah di SMA yang ada di Jakarta, tapi sayang, sepertinya Tuhan punya kehendak lain yang lebih keren. Dan akhirnya, disinilah aku, duduk sambil mencatat materi-materi yang sedang dicatat oleh guru biologi yang biasa dipanggil anak-anak dengan sebutan Bu As kalo dibaca Buas, persis seperti sifatnya. Rawr.
"Ssst... Sin! Sinta!" Aku menoleh ketika mendengar teman semeja ku, Putri. Sedang berbisik-bisik berusaha memanggilku.
"Ape?" Jawabku singkat.
"Liat! Liaaat!" Dan dia pun menyerahkan ponsel bermerk samsung core 2 itu ke hadapanku.
Lalu, aku mulai melihat sederet kalimat yang...
Dari: Kak Arif Pocong Perawan
Hai guys, mau kasih tau aja nih, kan RFM bentar lg ultah yang ke... Berapa? Ada yg tau? Yaaap! Ke empaaat!
Aku memotar bola mataku ketika membaca paragraf itu. Gila, garing+jayus abis nih orang.
Nah, maka dari itu sesuai dgn instruksi sesepuh kita yg katanya mau kawin. Kita mau adain kumbar nih buat RFM Tangerang, gimana? Seru kan? Tapi biar seru mari kita buat teka-teki. Gue akan ngasih clue jadwal dan tempat dmn kita kumbar, boleh diskusi ya buat nyari apa kira2 clue itu sebenernya, justru itu maksud gw bkn teka-teki ini biar kalian pada deket satu sama lain #ciebahasague inget guys, drpd kalian nyasar grgr sotoy dan gk mau nanya, mending diskusi, yegak? Anyway, ini dia cluenya. Perhatiin baik2 yap:
Waktunya 6 jam setelah 7 pahlawan harus gugur demi menyelamatkan ideologi bangsa, 30 KM di Utara kota Industri dengan desa nelayan yang menjorok ke laut dan dermaga bambunya ketika seluruh umat Indonesia melepaskan seluruh bebannya pada hari itu.
Nah, gampang kan? Eits, bukan itu aja, gue jg punya challange buat kalian. Jk kalian bisa nebak tantangan gue ini, gw bakal ksh hadiah, menarik kan? Ini tantangannya: terletak disalah satu hewan kramat keturunan Tionghoa, dan mempunyai hewan yang turut andil dalam sejarah Kota Surabaya.
Nah, gampang lg kan?
Ayo, pecahkan dan ikut kumbar! See you.
"Ini kak Pocong perawan bikin cerpen ya, Sin?" Tanya Putri tiba-tiba dan membawaku secara tak langsung di pijakan kesadaran.
"Berasa lagi baca novel Adrianna gue," bisik ku sambil melongo.
"Maybe, dia terinspirasi dari sono keles,"
"Mungkin, tapi sumpah kok gue penasaran sih?"
"Sama! Pecahin yuk!"
"Lo kira kaca apa dipecahin!"
Putri memutar bola matanya, "Teka-tekinya maksud gue."
"Oooh..."
***
Perpustakaan SMA N 3 atau sebutan gaulnya itu sih Smanic memang bukan tempat yang nyaman buat orang pinter belajar apalagi orang gak pinter tidur, sumpah. Ini perpustakaan bener-bener tempat yang gak nyaman lah, tapi demi memecahkan tantangan itu aku dan Putri rela berada di tempat yang mirip rumah Jin ini. Berbekal buku pengetahuan tentang Kota Tangerang dan Google akhirnya kami mulai berdiskusi.
Oke, kami memutuskan untuk mulai dari kalimat pertama.
Waktunya 6 jam setelah 7 pahlawan harus gugur demi menyelamatkan ideologi bangsa.
"Itu petunjuk waktu!" Seru Putri girang karena sudah merasa berhasil.
"Gue juga tau kaleee! Tapi kapan nih? Sejarah gue jelek, makanya gue milih masuk MIA."
"Iye-iyee, bentar gue pikir. 6 jam setelah tujuh pahlawan harus gugur... Tujuh pahlawan.., tujuh... Aha!"
"Apaan? Hari minggu maksudnya?"
Putri menjitak ku dengan tangannya, wah. Sialan nih bocah, kayaknya kecangkokannya bentar lagi keluar, "Bukan dodol, salah banget kalo itu yang ada di pikiran lo. Gini, 7 pahlawan! Itu tuh kejadian Gerakan 30 September banget! Gerakan yang membuat para ketujuh pahlawan kita harus gugur dibunuh anggota Partai Komunis."
"Anzaaai, kok gue baru tau ya? trus-trus?"
"Makanya jangan makan kalo lagi belajar sejarah! Trus pembantaian itu dilakukan dini hari, kemungkinan jam 12 dan 6 jam setelah jam 12 itu jam 6 pagi." Jelas dia dengan bangga, ewh andai aku pintar sejarah.
"Cerdas! Trus dimana?"
"Nah kalo itu mending kita nanya Sari, dia kayaknya tahu."
***
Biar ku kasih tau, Sari itu adalah anak IPS 3 yang suka banget hang-out. Jadi, nanya dia masalah ini sih kayaknya mudah, "Sariiii!" Teriak ku, lantas Sari memutar badannya dan menatapku.
"Iya?"
"30 KM di Utara kota Industri dengan desa nelayan yang menjorok ke laut dan dermaga bambunya ketika seluruh umat Indonesia, itu dimana?"
"Hah?"
"Iya 30 KM di Utara Kota Tangerang itu apaan?"
"Oh itu sih gampang, jawabannya Pantai Tanjung Kait, kenapa?"
Aku melongo. Gila, Kak Arip mau ngumpulin kita di Pantai? Keren. "Okee, thanks ya!"
"Yup!"
Sekarang tinggal teka-teki terakhir! Dimana semua umat melepaskan rasa penatnya. Easy, jawabannya hari minggu.
Oke, Minggu jam 6.00 WIB, di Tanjung Kait.
Ka Arip, aku dataaang!
***
Minggu, 06.00 WIB. Tanjung Kait.
"Mana sih Kak Arip?" Tanya Putri sambil membenarkan topi lebarnya.
"Telat kali," jawabku seadanya.
Tiba-tiba dari arah utara aku liat ada cowok berbadan agak gembil sedang berlari ke hadapan kami, yup. Itu dia Kak Arip.
"Hai, ladies." Sapanya sok akrab, dan hanya di balas oleh putaran mata malas aku dan Putri, eh ternyata disampingnya juga ada Ranita, toh.
"Sinting lo! Pake ngasih teka-teki gitu." Cecar ku langsung
"Hahaha, gapapa kan? Itung-itung biar kalian bisa lebih tahu tentang Kota Industri ini, gak melulu tentang Kota Metropolitan."
"Iya beneer!" Jawab Putri semangat.
"Trus tantangan ketiga apaan jawabannya?" Tagih kak Arip.
Aduh, sialan. Aku lupa tentang yang itu!
terletak disalah satu hewan kramat keturunan Tionghoa, dan mempunyai hewan yang turut andil dalam sejarah Kota Surabaya.... Apaan ya...
"Taman Buaya Tanjung Pasir!" Seru Putri semangat. OH, jadi dia sudah lebih dulu tahu? Sialan.
"Yaap, bener lagi. Gue akan ngasih hadiah ke elo setelah lo berhasil mematahkan teka-teki yang kedua."
"HAH, teka-teki lagi?!" Seru Putri tak percaya
END

VALENTINO WANEY @Vvalen14 [RFM MANADO]



Before Sunset


“Huh, Trisil mana sih?” Gerutu seorang pemuda sambil melirik jam tangannya yang kini sudah menunjukkan pukul 09.30. Sekitar setengah jam yang lalu dia sudah berada di sini. Di Foodcourt KFC yang berada di daerah pinggir laut namun lebih sering disebut “Daerah Kawasan” oleh orang-orang yang tinggal di kota sini.  Sambil sesekali mengambil kentang goreng yang dipesan olehnya, ia memandang ke arah depan, menyaksikan laut yang begitu tenang dan menikmati angin yang mulai menerpa wajahnya.

“Dorr” ucap seseorang tiba-tiba memegang kedua pundak pemuda tersebut. Pemuda tersebut tersentak pelan kemudian membalikkan badannya, menatap sang pelaku dengan ekspresi yang sulit di tebak.

“Jam berapa sekarang?” (Sekarang jam berapa?) ucap pemuda itu langsung. Si Pelaku yang mengangetkannya tadi hanya tersenyum lebar kemudian duduk di salah satu kursi yang tersedia dan mengambil kentang goreng pemuda itu yang masih tersisa.

“iyo iyo, sorry, tadi macet skali kwa” (Iya iya, maaf, tadi macet banget soalnya) ucap si Pelaku meminta maaf sambil mengambil kembali kentang goreng milik pemuda itu.

“Huh, iyo dang, kong ada masalah apa soh kong pagi-pagi so ba bbm pa qt?” (Huh, iya deh, trus emang ada masalah apa sampai masih pagi trus udah bbm gue?) ucap pemuda itu lagi kemudian memandang sosok perempuan yang berada dibelakang si Pelaku, baru sadar kalo si Pelaku tidak datang sendirian.

Si pelaku mengikuti arah pandang si pemuda kemudian menepuk jidatnya.
“Duduk Fy, duduk” ucap si pelaku. Orang yang disuruh duduk hanya tersenyum kemudian menarik salah satu kursi dan mendudukinya. Pemuda itu menatap sang pelaku tadi dengan tatapan seolah-olah minta penjelasan.

“Bentar ya, Fy”ucap si pelaku yang langsung mendapat anggukan kepala dari orang yang dipanggil “Fy”. Si pelaku kemudian berdiri dan menarik si pemuda agak menjauh.

“Apa sih ahh”ucap pemuda itu setelah mereka sudah berada agak jauh.

“Febrio Haling”panggil si pelaku dengan nada semanis mungkin, membuat pemuda tadi atau biasa disapa Rio menelan ludah, tidak biasanya dia dipanggil dengan nada semanis mungkin oleh temannya ini, pasti ada sesuatu nih, pikirnya.

“ngana kan tape tamang yang paling bae, ganteng, nda sombong, ra..” (lo kan teman gue yang paling baik, ganteng, gak sombong, ra..)

“nda usah bertele-tele ahh” (Gak usah basa basi, deh) potong Rio langsung sebelum Trisil menyelesaikan kalimatnya. Trisil kemudian tersenyum lebar, tidak salah dia ingin meminta tolong pada temannya ini.

“so lia tu cewek tadi toh? Dia ta pe tamang jaoh, tamang di dumay dang, da datang ba libur ka manado so 3 hari mar lantaran kita sibuk sekali nda sempat antar jalan-jalan pa dia, kong sabantar sore dia somo pulang mar kita sibuk sekali nih hari, ngana ba tamang akang kwa pa dia, neh? Please..”(Udah lihat cewek tadi kan? Dia teman gue yang dari jauh, teman di dumay, datang lburan ke manado udah 3 hari tapi karena gue sibuk banget gak sempat ajak dia buat jalan-jalan, trus sore nanti dia udah mau pulang tapi gue sibuk banget hari ini, lo temenin dia jalan-jalan ya? Please..) Mohon Trisil penuh harap, dia benar-benar gak enak sama temannya.

“Hmm..”ucap Rio sambil menggaruk-garuk belakang kepalanya yang sama sekali tidak gatal, dia benar-benar kaget sekaligus bingung karena sama sekali gak pernah menjadi tour guide.

“Sudajo dang kalo ngana nimau” (Yaudah deh kalo lo gamau) ucap Trisil kemudian langsung pergi. Membuat Rio semakin tak enak. Sebenarnya Rio dan Trisil adalah teman sekampus dari semester 1, pertemanannya dengan Trisil sudah berlangsung 1 tahun dan semakin lama keduanya semakin dekat sampai akhirnya Rio mulai merasakan debaran-debaran aneh ketika bersama sahabatnya itu, dan akhirnya sebulan yang lalu Rio mengutarakan isi hatinya namun ditolak oleh Trisil dengan alasan dia hanya menganggapnya teman atau bahkan sahabat, gak lebih. Dan Riopun memaklumi hal itu. Sejak saat itu mereka lost contact sampai akhirnya tadi pagi Trisil mengirimkan bbm kepadanya.

“Tunggu”ucap Rio menahan tangan Trisil ketika Trisil hendak pergi. Membuat Trisil berbalik dan menatapnya dengan tatapan bingung.

“Masa ta pe tamang bae da kesusahan kong qt nda mo bantu?” (Masa teman baik gue yang lagi kesusahan terus gue gak nolongin dia?) ucap Rio sambil tersenyum. Mendengar itu Trisilpun ikut tersenyum.

“Maaf neh Yo..” (Maaf ya, Yo..)

“Udah udah, ta le kwa so ikhlas, selama torang dua masih boleh ba tamang so cukup for qt, ngana se klar ngana pe urusan jo nanti ngana pe tamang biar qt yang urus” (Udah udah, gue udah ikhlas kok, selama kita masih bisa temenan, udah cukup kok buat gue, lo kelarin urusan lo gih, biar temen lo gue yang urus” ucap Rio. Trisil menggangguk kemudian menghampiri Ify, setelah mengucapkan satu dua kata, dia pergi.

Rio kemudian menghampiri Ify yang masih duduk manis di tempat tadi.

“Rio”ucap Rio menjulurkan tangannya.

“Ify” Balas Ify menjabat uluran tangan Rio.

“Eng.. Lo bisa bahasa Manado, gak?”Tanya Rio mengingat bahwa perempuan yang didepannya ini bukan berasal dari Manado. Ify menggeleng. Rio tersenyum maklum, untung saja bahasa indonesianya atau bahasa gaulnya lancar sehingga dia tidak akan terlalu kaku ngomong dengan perempuan di hadapannya.

“Terus lo mau ke mana nih? Gue gak biasa jadi tour guide sih, atau mau makan dulu?”tanya Rio sambil melirik kearah samping, tempat KFC berada. Ifypun mengikuti arah lirikan Rio dan mengerti maksudnya.

“Duh, gue nggak lagi pengen makan di sini, masa datang jauh-jauh ke Manado terus makan makanan yang ada di tempat gue”ucap Ify. Membuat Rio sedikit jengkel mendengarnya.

“Yaudah, terus lo mau ke mana?”

“Hmm..” Ify berpikir sejenak “Gue pengen ke Bunaken, itu jauh gak sih dari sini?” tanya Ify lagi membuat Rio memelotkan matanya.

“Gila aja, jauhlahh, itu ada di pulau sebelah, gak berada satu daratan dengan Manado, kalo mau ke sana harus naik kapal laut, dan biaya sewa kapalnya itu bisa sampe satu juta, ke tempat lain aja dehh” ucap Rio tanpa sungkan, gila aja kalo dia harus mengorbankan uang satu juta hanya untuk memenuhi permintaan Ify.

“Satu juta ya..”Ucap Ify sambil berpikir. “Gimana kalo gue bayar setengahnya, lo juga setengahnya?”Tawar Ify, Rio berpikir sejenak, sudah lama sejak terakhir dia ke Bunaken, dan semenjak semester 1 dia sudah membantu usaha orang tuanya sehingga dia memiliki tabungan yang cukup banyak, di tambah akhir-akhir ini dia jarang sekali berlibur, sepertinya nggak ada salahnya untuk berlibur, kan?

“Oke deh, tapi kita ke rumah gue dulu ya, dan kayaknya lo harus ganti pakaian deh”ucap Rio melihat Ify sekali lagi yang memakai kaos oblong pink dan celana jins panjang.

“Kenapa emang?”tanya Ify bingung.

“Ya kan kita mau ke pantai, masa lo pake celana panjang sih?”Tanya Rio yang langsung ditatap Ify dengan pandangan aneh.

“E..Eh, maksudnya bukan kayak gitu, ah sudahlahh”Ucap Rio lagi seakan tahu apa yang Ify pikirkan kemudian beranjak dan menuju mobilnya yang diparkirkannya tak jauh dari tempat ini. Ifypun mengikutinya.

***
Suasana di dalam mobil begitu sepi, keduanya seakan enggan untuk memulai pembicaraan, sampai akhirnya Rio menghentikan mobilnya di depan sebuah Ruko dan membunyikan klakson mobilnya.

“Rumah lo di sini?”Tanya Ify, Rio menggangguk.

“Mau ikut masuk nggak? Gue mungkin agak lama”Jawab Rio.

“Nggak deh, gue tunggu di sini aja, oh iya, emang kenapa lo gak keluar aja? Cuma ngeklakson mulu daritadi”Tanya Ify sedikit penasaran.

“Ya tunggu di buka pintunya dulu lah, lagipula klaksonnya kedengaran sampe di atas kok” jawab Rio, Ify hanya manggut-manggut. Tak lama kemudian pintu Ruko di buka oleh seseorang.

“Gue tinggal dulu ya, AC-nya masih gue pasang kok, trus dibelakang ada permen, ambil aja kalo mau. Bentar ya”Jawab Rio. Ify menggangguk.

20 menit kemudian Rio kembali dengan memakai kaos oblong dan celana jins pendek sambil membawa gitar.

***

“Eh, pelabuhannya deket rumah lo ya?”tanya Ify ketika baru sebentar mereka sudah sampai.

“Ya, pelabuhan di sini ada 2 sih, satu yang dibagian pasar, gak jauh juga dari sini, satu di sini atau disebut Marina Plaza, tapi gue gak pernah ke pelabuhan yang satunya. Lagipula yang di sini semuanya gue kenal kok, hehe”ucap Rio kemudian turun, di ikuti oleh Ify.

“Bentar ya gue coba tanyain harga kapal yang siap berangkat sekarang, lo duduk di sana aja deh” Kata Rio kemudian menunjuk kursi yang terdapat di sana. Ify sekali lagi menggangguk kemudian berjalan masuk ke dalam, mendekati tiang pembatas dan menatap lautan yang begitu tenang.

“Gimana?”Tanya Ify ketika dia melihat Rio menghampirinya.

“Beres, dikit lagi kita berangkat” jawab Rio.

“Ohh..”ucap Ify kemudian melanjutkan kembali kegiatannya yaitu foto selfie dengan latar belakang lautan.

“Yuk Fy”ucap Rio sambil membawa gitarnya kemudian mengikuti seorang pria yang sepertinya akan mengantarkan mereka.

“Eng…”ucap Ify ragu-ragu ketika harus melompat ke haluan kapal (?) (Ituloh, kan kapal laut ada kek segitiga gitu depannya, jadi naiknya dari situ :3) melihat haluan kapal itu cuma kecil dan waktu Rio melompat kapalnya sedikit bergoyang membuatnya takut.

“Nda kwa, sini nanti bapak pegang” (Gpp kok, sini bapak pegangin) ucap pria yang diikuti mereka sambil mengulurkan tangannya. Namun Ify tetap ragu-ragu, bagaimana jika dia salah menginjak kemudian malah jatuh ke laut? Itu akan sangat memalukkan.

“Nanti qt jo pak” (Nanti aku saja pak) ucap Rio. Pria itu menggangguk kemudian mulai mempersiapkan kapal.

“Ayo sini Fy”ucap Rio mengulurkan tangannya.

“Gue takut, Yo”ucap Ify.

“Udah gak apa apa, ada gue kok. Sini gue pegangin”ucap Rio yang semakin mendekat kearah haluan kapal. Namun Ify tetap menggeleng.

Trust me..”ucap Rio lembut sambil menatap Ify lembut. Ify kemudian menggapai tangan Rio dan langsung di tarik oleh Rio yang langsung membuat Ify kini berada didekapan Rio.

“Gak apa-apa, kan?”tanya Rio lembut sambil melepaskan tangannya dipunggung Ify. Ify hanya menggangguk dengan wajah yang sedikit memerah.

“Yuk ke dalam”Ajak Rio ketika Ify memilih duduk di tepi kapal ( ituloh, kan ada tepinya ._. pokoknya di situ lahh -_- semoga ngerti :v)
“Di sini lebih ademm”jawab Ify sambil memegang kuat-kuat tepi kapal dan sesekali berteriak ketika kapal mulai bergoyang akibat ombak.

“Emang gak takut tuh kulit ke bakar?”tanya Rio yang ikut duduk disamping Ify. Ify menatap tangannya.

“Lagipula ini panas pagi, sinar matahari di pagi hari bagus tauu, emang berapa lama sih perjalanannya? Kyaa..”tanya Ify lagi sambil berteriak ketika tiba-tiba kapalnya goyang.

“Satu jam setengah, ya terserah lo sih”Jawab Rio kemudian berdiri dan berjalan kearah kabin.

“Eh ehh, tunggu”ucap Ify kemudian ikut berdiri, namun baru saja melangkah kapal kembali bergoyang sehingga gadis itu kehilangan keseimbangannya dan dengan sigap Rio langsung menahannya agar tak terjatuh.

“Hati-hati”ucap Rio. Ify menggangguk, wajahnya terasa panas kembali.

“Yuk”ajak Rio memegang tangan Ify kemudian berjalan kembali.

***

“Nyanyi-nyanyi aja yuk, nih gue bawa gitar”ucap Rio ketika mereka berdua duduk di kabin, Ify menggangguk kemudian keduanya mulai bernyanyi-nyanyi.

“Foto-foto yuk, Yo”Tawar Ify setelah sudah keberapa lagu yang mereka nyanyikan kemudian mengambil handphone-nya dan membelakangi Rio.

“Masih lama ya, Yo?”tanya Ify setelah beberapa kali mereka foto-foto.

“Sekitar 40 menitan lagi lah, emang kenapa?”tanya Rio balik.
“Bosennnn”Jawab Ify.

“Yaudah gimana kalo kita main?”Tawar Rio. Membuat Ify langsung menatapnya penasaran.

“Yah, kan kita bisa dibilang sudah dekat lahh, jadi kita akan melakukan tanya jawab, gimana?”tanya Rio.

“Jadi kita akan saling bertanya?”tanya Ify balik.

“Ya, pertanyaan langsung, dan harus menjawab jujur, gimana?”tawar Rio. Ify berpikir sebentar kemudian menggangguk antusias.

“Oke, gue duluan, hmm… Lo suka sama Trisil, kan?”tanya Ify, membuat Rio sedikit kaget ketika langsung ditanyakan seperti itu.

“Yahh.. Begitulah, gue sama dia udah lama temenan sampe akhirnya gue yang jatuh cinta duluan, ya seperti kata orang, gak ada persahabatan sejati antara dua lawan jenis, pasti salah satu diantaranya akan mengharapkan lebih dari sekedar itu.”jawab Rio.

“Oke sekarang gue, perkenalin diri lo, nama, umur, pokoknya semuanya dehh, yang bisa buat gue kenal lo lebih jauh”

“Hmm, okee.. nama gue Callifya Alyssa, tapi gue lebih seneng dipanggil Ify, umur 18 tahun, semester 1 akuntansi di perguruan Bima Nusantara di Bandung, anak kedua dari tiga bersaudara, apalagi ya? Itu aja deh, hahaha”

“Sekarang gue, hmm.. menurut lo, jatuh cinta itu gimana sih? Maksudnya, gimana cara lo bisa jatuh cinta sama seseorang?”tanya Ify

“Hmm, kupikir gue bisa jatuh cinta ketika gue tahu segalanya tentang seseorang, cara dia merawat rambutnya misalnya, atau cara dia memilih pakaian yang dia akan dia kenakan hari itu, dan yang pasti, gue nyaman bersamanya”

“Sekarang gue, apakah kita bisa bertemu lagi?”tanya Rio

Ify berpikir sejenak “Entahlah, gue kemari karena kebetulan pengen ketemu Trisil aja, dan lagi gak sibuk, gue gak tau bisa ketemu lo lagi apa nggak, mungkin nggak, lagipula kita hanya kencan satu hari, ‘kan?” Rio hanya tersenyum, sepertinya mereka memang hanya ditakdirkan untuk kencan satu hari, lagipula dia tidak ada perasan apa pun terhadap gadis dihadapannya.


***

“Mo turung di mana pak? Yang kiri ato kanan?” (Mau turun di mana pak? Yang kiri atau kanan?) Tiba-tiba pria yang ingin membantu Ify naik ke kapal tadi bertanya pada Rio.

“Yang di kanan aja pak”Jawab Rio. Kemudian pria itu langsung ke haluan kapal dan memberikan kode ke pengemudi kapal.

“Emang kalo di kiri kenapa, Yo?”tanya Ify.

“Yang di kanan seingat gue sih, bersih tempatnya, dan emang biasa turun di kanan kok” Ify hanya manggut-manggut mengerti.

***

“Ayo turun Fy”Ucap Rio yang kini sudah turun dari kapal lewat Buritan.

“Celana gue bisa basah ihh, emang kapalnya gak bisa diparkir di tepi pantai apa?”tanya Ify polos.

“Yee, kalo di tepi pantai mah nanti lo yang mau dorong kapalnya balik ke air lagi? Udah siniii”Ucap Rio lagi.

“Nanti basah Riooo… itu airnya aja di betis lo, nah kalo di gue bisa di lutut ihh” ucap Ify lagi, dia sama sekali gak menyangka akan turun di perairan.

“Yaudah sini gue gendong deh”ucap Rio kemudian berbalik membelakangi Ify. Membuat mata Ify terbelalak.

“Ayo sini, lo lama ahh, tadi udah dibilangin pake celana pendek juga malah ngeyel, ayo sinii”Teriak Rio lagi.
Dengan ragu-ragu Ify mulai turun lewat tangga yang disediakan kemudian memeluk leher Rio.

“Lo berat juga ya ternyata” ucap Rio ketika Ify berada dipunggungnya.

“Ihhh”ucap Ify memukul pundak Rio pelan.

“Jangan gerak gerak woyy, nanti bisa jatuhh”ucap Rio. Ifypun menurut.

“Gilaaa, lo berat banget Fy, serius dahh, leher gue pegel-pegel nihh”ucap Rio setelah menurunkan Ify, dan langsung mendapat cubitan dari Ify.

“Rio nyebelin ihhhh”

“Hahaha”

“Mau di anterin gak pak?”tawar pria yang di kapal yang juga ikut turun.

“Udah gak usah pak, nanti kalo udah kami cari bapak deh”jawab Rio sopan.

“Oke” Kemudian bapak itu pergi.

Rio dan Ify kemudian berjalan di daerah yang tidak kena sinar matahari dan duduk di pasir putih.

“Jadi? Ini nih Bunaken”ucap Rio dengan gaya bangga. Ify tersenyum.

“Pemandangannya bagus, pasirnya juga bagus, halus gini”ucap Ify setelah mengambil pasir.

“Lo mau diving gak? Harganya 250-an kalo gak salah, itu udah termasuk sewa pakaiannya”tawar Rio. Namun Ify menggeleng.

“Gak ahh, gue takut” ucap Ify yang masih sibuk dengan pasirnya (?)

“Yaudah bentar ya”ucap Rio kemudian beranjak pergi, tak lama kemudian dia balik dengan dua buah kepala muda ditangannya.

“Dari mana tuh? Lo manjat pohon?”tanya Ify polos.

“Ya nggak lah, itu di sana di jual, 10 ribu, nih”ucapnya sambil menyodorkan salah satunya ke Ify, Ifypun langsung meminumnya.

“Eh, tau gak Fy katanya pasir di sini itu bisa bikin kulit halus lho”ucap Rio kemudian duduk kembali.

“Oh, ya?”ucap Ify kemudian langsung menimbun kedua kakinya dengan pasir dan langsung memegang pasir dengan kedua tangannya.

“Pft… Hahahaha”Tawa Rio langsung pecah ketika melihat aksi Ify, Ifypun menatap Rio kemudian sadar kalau dia sedang dikerjain.

“Riooooooo!!!”ucap Ify kemudian langsung mengejar Rio yang lebih dulu kabur.

***

“Udah jam 4 nih, pesawat lo jam berapa?”tanya Rio ketika mereka telah kembali ke Marina Plaza.

“lima belas menit jam enam”ucap Ify.

“Oh gitu, terus sekarang lo mau ke mana?”tanya Rio.

“Hmm…”Ify Nampak berpikir “gue pengen makan..”

“Oke, gue tau tempat makan yang enak di sini”

“Tapi makanan khas Manado, gue pengen rasain Bubur Manado”Lanjut Ify. Rio berpikir sejenak. “Oke, yukkkk”

***

“Jadi.. ini bubur manado?”tanya Ify ketika dihadapannya telah terhidang sebuah makanan. Kini dia dan Rio telah berada di sebuah restaurant.

“Yaps, atau biasa disebut Tinutuan, ya nggak bisa dibilang bubur juga sih, buktinya itu ada kangkung, trus ada ubi, ada labu, trus ini sayur apa sih namanya? Ah tau dehh, tapi enak kok, sehat, dan bergizi”ucap Rio bangga mempromosikan makanan khas daerahnya.

“Terus ini.. sambal?”tanya Ify ketika melihat sesuatu yang seperti sambal berada di atas meja.

“Iya, tapi di sini lebih sering disebut Rica atau dabu-dabu, cobain deh, ini dabu-dabu ikan roa, behh.. mantap pokoknya, kalo lo suka pedes coba ambil banyak, tapi untuk pemula ambil dikit aja, trus lo juga bisa campurin kecap di bubur ini, ya lo ukur sendiri deh selera lo gimana” terang Rio lagi. Ify mengangguk kemudian mengambil dabu-dabu itu secukupnya dan diletakkan di makanannya. Ia kemudian melaham sesendok Tinutuan tak lupa dengan dabu-dabunya yang sedikit dan kemudian memakannya.

“Hmm… Enakkk” (Ini penulisnya ngiler sendiri ngebayanginnya T.T) ucap Ify sambil tersenyum.

“Iya kan? Tapi baiknya itu lo campur gih, daripada lo ambil dikit-dikit kayak gitu ricanya”Saran Rio. Ify menggaguk kemudian mulai meracik sendiri makanannya.

***
“Jadi.. kita sudah sampai”ucap Rio setelah memarkirkan mobilnya di bandara.

“Ya, kita sudah sampai”ucap Ify lagi dengan nada sedih.

“Fy?”ucap Rio pelan namun masih bisa didengar oleh Ify.

“Ya?”tanya Ify balik menatap Rio. Dia sama sekali gak suka dengan suasana yang seperti ini, seolah-olah ada perasaan nggak rela diantara mereka berdua.

“Eng…lo gak bakal lupain gue, ‘kan?”

“Mungkin”jawab Ify kemudian menghela nafas “Lagipula kita baru bertemu dan kencan satu hari kan? Bisa aja gue lupain lo..”ucap Ify dengan nada sedih. Rio menatap ke atas sambil menutup matanya dan tiba-tiba ingatan tentang hari ini terlintas begitu saja di benaknya.

“Ya, benar, lo mungkin aja lupain gue ataupun gue yang lupain lo, karena kita hanya kencan satu hari”ucap Rio dengan nada sedih

“Tapi.. itu sangat berarti buat gue, Fy, gue bener-bener menikmatinya”ucap Rio akhirnya sambil memandang Ify. Ify tersenyum “Ya, gue juga”

“Kalo gitu, gue pergi ya, Yo, makasih banyak ya”ucap Ify sambil tersenyum kemudian membuka pintu mobil Rio, namun langkahnya terhenti ketika mendengar suara Rio.

“Gue benci ini..”ucap Rio sambil tetap menatap ke atas.

“Gue juga.. pesawat gue sebentar lagi berangkat”ucap Ify akhirnya.

“Fy..”Panggil Rio, Ify menoleh.

“Soal omong kosong yang kita bicarakan di kapal, tentang nggak akan bertemu lagi? Gue nggak mau itu terjadi.."ucap Rio. Ify tersenyum

“Gue juga..” Rio langsung menatap Ify dengan tatapan tak percaya.

“Yah.. Gue takutnya lo nggak mau lihat gue lagi..”

“Dengar Fy, dengarr”ucap Rio kemudian melirik jam yang berada di mobilnya, 10 menit lagi pesawat Ify akan berangkat dan memegang kedua tangan Ify.

“Gue sayang lo Fy, gue gak tau sejak kapan gue bisa sayang lo, sejak kapan jantung gue berdebar-debar kayak gini, dan gue gatau kenapa gue gak rela lo pergi sekarang, gue sayang lo, Fy”ucap Rio, nafasnya terburu-buru, dia sama sekali nggak mau menyesal karena harus kehilangan Ify sekarang tanpa memberitahukan perasaannya.

“Bagaimana kalau gue menjawabnya tahun depan?”tanya Ify sambil tersenyum. Membuat Rio menatapnya heran.

“Gue nggak mungkin pergi dengan keadaan kayak gini, ‘kan?”ucap Ify lagi.

“Kan kita bisa komunikasi lewat sms, telfon, fb, bbm atau apa kek, nama fb lo apa? Nomor lo berapa? Pin bb lo berapa?” tanya Rio bertubi-tubi.

“Gue nggak mau LDR apalagi hanya dengan kencan satu hari, dan gue gak suka pacaran sama telefon atau laptop, mungkin kasusnya beda kalo kita pernah kencan beberapa hari, nggak Cuma 1 hari”terang Ify lagi. Membuat Rio semakin gelisah

“Yaudah yaudah.. tahun depan kita ketemu lagi, pas liburan, lo akan ke manado kan atau gue yang ke Bandung?”tanya Rio.

“Gimana kalo enam bulan aja deh, gue akan ke manado, bertemu di tempat kita awal bertemu”ucap Ify

“Enam bulan dari sekarang? Bulan desember, ya?”Ify menggangguk.

“Tapi kita tanpa komunikasi, tanpa telefon, tanpa sms, bbm, chat atau apalah, enam bulan.. kalo misalnya gue gak datang, berarti gue lupain lo, begitupun sebaliknya, ya? Dan lo jangan coba-coba minta apa pun ke Trisil”ancam Ify.

“Terus.. gimana gue tau kalo lo gak php-in gue Fy? Gue bener-bener sayang sama…”ucap Rio namun ucapannya terhenti ketika tiba-tiba Ify langsung mencium bibir Rio.

“Tunggu gue enam bulan ya, gue sayang lo juga kok”ucap Ify dengan wajah memerah kemudian turun dari mobil, meninggalkan Rio yang masih terpaku dan memegang bibirnya, ciuman itu masih terasa.

“Pasti, Fy, gue janji”ucap Rio. Ify hanya terus berjalan sambil tersenyum, dia tak menyangka liburannya kali ini bisa membuatnya bertemu dengan seseorang, seseorang yang secara tanpa sadar membuatnya bisa jatuh cinta.

So kiss me and smile for me
Tell me that you’ll wait for me
Hold me like you’ll never let me go
Cause I’m leaving on a jet plane
Don;t know when Ill be back again
Oh babe, I hate to go
Now the time has come to leave you
One more time
Let me kiss you
Then close your eyes
Ill be on my way
(Chantal Kreviazuk – Leaving on a jetplane)


-The End-



Valentino Waney, @Vvalen14, RFM Manado