Jumat, 07 November 2014

DIFNAA ROSHA AMANDA @difna_rosha [RFM LAMPUNG]



Cerpen -Tentang Sebuah Nama
Kala nada-nada manis telah bersenandung, dari riak-riak kecil kebahagian. Itu disebabkan..... kamu.
-----
Semua itu berawal, ketika senyummu menyapa lewat manik mata yang sejak saat itu selalu kudamba-damba.
"Mau makan apa fy?" Kata Yeyen, sahabatku. "Ifyyyy, mau makan apa?" Ulangnya saat aku masih sibuk menatap senyum dan matanya. Ia mengalihkan muka, aku mundur dari tempatku tadi, menatap yeyen dan tersenyum.
"Makan apa aja deh, yang kamu pesan. Aku mau! Hehehe." Yeyen mengernyit bingung sambil mengangguk-angguk. Aku menuju meja yang berada di kantin itu, duduk menunggu yeyen memesan makanan. Kuperhatikan, ia berjalan kearahku lalu duduk di meja tepat di depan mejaku. Fokusku beralih pada handphone yang sebenarnya tak ada notifikasi apapun saat ia menoleh menatapku. Dan, sejak saat itulah aku mulai mencari-cari tahu tentang dia.
-----
Kala hati berbisik, menyenandungkan irama, mendengungkan namamu di telinga.
Aku berjalan untuk mengikuti kelas pagi, saat kulihat ia turun dari mobil dan berjalan tepat didepanku. Ia masuk ke kelas yang sama denganku lalu duduk di barisan ketiga, kulihat ia dengan headset menggantung di telinga dan mata terpejam mengikuti irama lagu yang terputar di ponselnya.
"Ifyyyy. Aku duduk disitu ya?" Yeyen yang baru saja masuk kelas langsung berjalan kearahku, aku mengangguk pelan lalu mengalihkan pandanganku kearah ponsel. Terkadang mataku mencuri lirik pada lelaki itu. Matanya masih terpejam, raut wajahnya keluh. Pikiranku berkecamuk. Ada apa dengannya?
"Derio..." Fanny menjerit dari depan pintu, aku menoleh saat ia membuka matanya dan mengernyitkan mata. Aku tersenyum sekilas.
'Derio. Derio. Derio. Derio. Derio. Derio.'
Namanya bermain-main di pikiranku. Senyum dan matanya terbayang-bayang di anganku. Tapi hari itu, tak kulihat senyum dan matanya tertuju padaku.
-----
Kala irama telah memainkan nada-nada, aku tak bisa lupa bagaimana caramu menyapa.
Hari ini, tepat 2 bulan sejak aku mengagumi senyum dan matanya. Aku memasuki kelas yang telah sesak oleh mahasiswa, ternyata perkuliahan bergabung dengan kelas sebelah. Aku menoleh mencari-cari tempat kosong, saat kulihat tepat di depan Derio ada 2 bangku kosong, mataku mengernyit. Haruskah aku duduk tepat di depannya? Menahan malu dan tingkah? Ah sudahlah. Aku melangkahkan kaki, mendekat kearahnya yang saat itu sedang mengobrol seru dengan teman-teman yang lain. Aku duduk dengan diam lalu berpura-pura sibuk dengan ponselku. Yeyen kemanasih? Buruan datang dong. Ugh!
"Ifyyyy!" Aku menoleh ke belakang saat kudengar ada yang memanggilku. Eliza atau yang lebih sering disapa Icha, tersenyum kearahku. "Itu buku bahasa Indonesia, punyo kau?" (Itu buku bahasa Indonesia, punya kamu?) Aku menoleh melihat buku yang berada di atas mejaku. Lalu mengangguk. Kurasakan Rio sedang menatapku. "Aku boleh liat dak?" (Aku boleh lihat nggak?) Eliza berkata. Aku segera menyerahkan buku itu sebelum keringat dingin meluncur dari dahiku.
'Oh my God, Ify! Bego banget. Kamu harusnya biasa aja dong. Just Derio, okay?' Aku mencaci dalam hati. Bego banget kalau sampai Rio tau aku mati kutu hanya karena dia.
"Pikachu..." Tepukan di bahu serta panggilan itu membuatku menolehkan kepala. Saat tiba-tiba Derio menyerahkan buku yang dipinjam oleh Icha tadi.
"Kamu panggil aku apa?" Aku bertanya sambil mengernyit. Ia tertawa mendengar pertanyaanku.
"Pikachu..." Katanya santai. Aku makin mengernyit.
"Pikachu? Apaan sih! Hahaha." Saat itu, aku tak tau kenapa, aku ingin selalu bisa berbicara sedekat ini dengannya. Dan hari itu, hari pertama aku, dia, saling tertawa.
----
Kala matahari terbenam, dan bulan muncul menerangi malam, aku masih sama.
Sejak hari itu, aku dan Rio menjadi teman. Ia sering menyapaku lewat tatap mata dan senyumnya. Tetapi, kedekatanku dan Rio masih belum seperti kedekatan Rio dan Fanny serta teman-temannya. Aku mengerti hal itu, tentu saja karena Fanny sudah sejak dulu mengenal Rio daripada aku. Terkadang, aku iri melihat kedekatan mereka. Seringkali kulihat Rio memilih duduk atau bergabung dengan mereka saat kelas belum di mulai. Aku tersenyum kecut.
"Kenal sama kamu aja, aku sudah merasa beruntung kok, Yo." Aku bergumam pelan saat kulihat Fanny, Gladys dan Phely berjalan kearah Rio.
Aku mengalihkan muka kearah pintu kelas. Kulihat Yeyen sedang tersenyum dan berjalan kearahku. "Ngapo sih, Fy? Lemes nian nah?!" (Kenapa sih, Fy? Lemas banget deh?!) Yeyen yang memang bawel langsung merangkulku. Aku tersenyum.
"Aku nggak apa-apa, Yen." Yeyen tersenyum, lalu mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Ia menyodorkan susu kotak kecil padaku. Aku tersenyum lalu menerimanya.
"Aku tadi ketemu sama kak Reza di depan, dia ganteng banget yaampun!" Yeyen memulai cerita. Sahabatku satu ini memang menyukai seorang kakak tingkat dari fakultas teknik. Aku menatap penuh minat saat ia menceritakan pertemuannya dengan sang idaman. "Tau dak, Fy? Dio mintak nomorku! Aaaa!" (Tau nggak, Fy? Dia minta nomor aku!) Yeyen menjerit heboh. Aku tertawa melihatnya.
"Caknyo, kagek aku dak jomblo lagi nah, Fy. Hahahaha. Kau cepat cari lah!" (Sepertinya, nanti aku nggak jomblo lagi deh, Fy. Kamu cepat cari lah!) Yeyen memeletkan lidahnya kepadaku. Aku langsung menoleh kearah Rio yang tadi masih asik mengobrol dengan Fanny dan teman-temannya, ia melihat kearahku dan tersenyum manis dengan matanya menatapku, jantungku berdetak cepat, aku balas tersenyum dan mengalihkan muka salah tingkah.
-----
Kala waktu berputar membawa hari, aku pernah berharap ia berhenti, saat kamu disini.
Lagu milik Asher Book berjudul Try mengalun memenuhi ruang kamarku. Aku masih menggeliat diatas kasur empukku. Hari ini, kuliah libur. Ponselku bergetar, kulihat nama Yeyen muncul di layar depan ponselku.
"Halo. Pagi, Yen." Sapaku pada Yeyen. Yeyen membalas sapaanku.
"Pasti masih stuck di kasur deh? Iyaa kan? Hahahaha." Yeyen tertawa, aku ikut tertawa.
"Kenapa? Tumben deh pagi-pagi udah nelpon. Pasti lagi bahagia?" Aku berkata sambil memeluk guling.
"Ih, Ify!! Tau bae sih kalo aku lagi senang nian. Makin cinto nah aku samo kau! Hahaha" (Tau aja sih kalau aku lagi bahagia banget. Makin cinta deh aku sama kamu!) Yeyen cekikikan di ujung sana. Aku tersenyum, meskipun aku mengenal Yeyen saat kami masih mahasiswi baru di salah satu perguruan tinggi di Palembang, 8 bulan yang lalu, tetapi ia adalah sahabat terbaikku disini. Di kota orang ini. Ya, aku memang bukan berasal dari Palembang, melainkan dari Lampung. Hidup mandiri di rumah orangtuaku disini dan jauh dari orangtua, membuatku merasa beruntung mengenal Yeyen. Ia bercerita panjang lebar mengenai kedekatannya dengan kak Reza.
"Kagek malam, dio nak ngajak aku bejalan nah, Fy!" (Nanti malam, dia mau ajak aku pergi nih, Fy!) Yeyen berteriak-teriak senang. Aku ikut heboh mendengarnya.
"Siap-siap aja PJ ya, Yeyen kusayang! Hahaha." Aku tertawa heboh. Tiba-tiba ponselku yang lain berbunyi, notifikasi dari BlackBerry Messenger.
'Linko Derio has invited you.'
"What?! Aaaaaaaakkkkk hahahahaha." Aku tertawa heboh dan guling-gulingan di kasur. Segera kuterima request dari Rio.
"Fy, are you okay?". Yeyen bertanya bingung.
"Iyo. Nyak wawai-wawai gawoh! Hahaha" (Iya. Saya baik-baik saja!) Aku tertawa saat mendengar nada bingung Yeyen disana. Ia pasti tak mengerti aku berbicara apa, karena aku memakai bahasa daerahku, Lampung. "Yen? Are you okay?" Aku cekikikan.
"Hah. Hehehe iya, Fy. Kamu ngomong apa tadi? Aku nggak ngerti." Yeyen berkata pelan. Aku tertawa mendengarnya.
"Sudah lah, Yen. Mending kamu siap-siap aja untuk nanti malam. Bye!" Aku menutup sambungan telpon. Mataku beralih pada recent updates bbm ku. Kulihat Rio mengganti display picturenya.
"OMG! You kill me, Yo!" Aku menjerit heboh. ----
Kala mata menatap. Kamu tersenyum lekat. Aku berdetak cepat.
"Pikachuuu..." Aku menoleh lalu tersenyum. Terlihat Rio berjalan kearah bangku, sambil menatapku.
"Apansih, Yo. Hahaha" aku tertawa sambil balas menatapnya. Ia menyapaku pagi ini. Hampir tiap kali memanggilku, ia selalu menyebutku dengan sebutannya itu. Aku tak tau apa maksudnya memanggilku dengan sebutan itu. Padahal, namaku sama sekali tidak mirip dengan nama kartun yang ia berikan padaku. Ah, Rio.
Aku mengalihkan pandangan kearah ponselku, membaca private chat antara aku dan sahabatku yang berada di Lampung, Rizkyatul atau sering kupanggil Tul. Hanya Tul yang tau semua tentang perasaanku pada Rio. Yeyen pun bahkan tak tau apapun jika aku menyukai salah satu diantara teman kelas kami itu. Aku tersenyum saat membaca tulisan Tul di chat kami. Gadis itu, memang sahabat yang selalu tau apapun tentangku sampai saat ini. Sayangnya, aku dan ia terpisah karena berbeda perguruan tinggi.
"Pikachu! Masih pagi, senyum-senyum aja dari tadi." Rio tiba-tiba berkata dari bangkunya. Aku menoleh kearahnya yang berada tak jauh dariku.
'Are you kidding me? Setelah sekian lama, baru kali ini Rio mau bicara panjang lebar padaku!' Aku membisik dalam hati. Hatiku berdebar. Tak kujawab candaan Rio tadi. Aku, salah tingkah.
----
Kala sinar matahari menghasilkan peluh. Mata dan senyummu, menyejukkanku.
Aku berjalan santai sambil menggerutu sebal menuju kantin. Yeyen yang langsung meninggalkanku sejak perkuliahan usai tadi, ternyata sudah duduk manis dengan semangkuk tekwan dan es kacang merah khas palembang itu, di hadapannya.
"Ify! Ngapo cemberut bae nah muka tuh?" (Ify, kenapa cemberut aja deh wajahnya?) Intan, teman yang juga sekelas denganku, menyapa. Aku tersenyum kecut pada Intan yang sedang asik duduk di meja ujung kantin bersama Emeur, Ines, Nazira, Ita dan Isti. Mereka berenam itu, nggak pernah terpisahkan deh. Selalu berenam kemanapun. Ohiya, mereka juga dekat dengan Rio.
"Bangik, Yen? Bangik?!" (Enak, Yen? Enak?!) Caciku menggunkan bahasa Lampung pada Yeyen. Gadis itu hanya nyengir tanpa rasa bersalah.
"Hehe, Ify mau makan apa? Aku pesanin deh." Aku menggeleng cepat. Pandanganku tertuju pada Rio dan seorang temannya yang kuketahui namanya, Arif. Ia sedang mengedarkan pandangannya ke penjuru kantin yang sesak dengan mahasiswa. Matanya menatapku dan tersenyum. Ia sedikit berbincang dengan Arif lalu berjalan kearahku. Mau apa dia?
"Hai. Pikachu sudah makan?" Tanyanya padaku. Aku hanya tersenyum lalu menggeleng. "Boleh aku duduk disini?" Aku segera mengiyakan. Ia duduk tepat didepanku, dan Arif duduk tepat di depan Yeyen. Yeyen mengernyit.
"Pikachu?" Tanya Yeyen bingung. Rio menaikan alis matanya dan tersenyum pada Yeyen. Rio menyeruput minumannya, lalu menatapku.
"Kagek malem, ikut aku ke benteng kuto besak galak dak? Ado pameran disano. Kalo malem jugo pemandangannyo bagus. Apolagi latar belakangnyo jembatan Ampera, warno-warni lampunyo, keren nian. Ado restoran terapung jugo. Belum dikatoke jadi wong Palembang, kalo belum pernah ke bkb malem-malem. Hahaha. Galak dak, Pikachu?" (Nanti malam, ikut aku ke benteng kuto besak mau nggak? Ada pameran disana. Kalau malam juga pemandangannya bagus. Apalagi latar belakangnya jembatan Ampera, warna-warni lampunya, keren banget. Ada restoran terapung juga. Belum dikatakan jadi orang Palembang, kalau belum pernah ke bkb malam-malam. Hahahaha. Mau nggak, Pikachu?) Kata Rio, to the point. Aku melongo dibuatnya. Yeyen juga ikutan melongo.
"Ma.. Maksudnya, Yo? Kamu ajak aku jalan?" Tanyaku terbata-bata. Wajar dong, aku kan nggak mengira Rio bakalan mengajakku jalan seperti ini. Ia mengangguk.
"Aku kan pengen ngenalin kota kelahiranku, ke kamu. Hehe." Aku tersenyum mendengar jawabannya. "Besok-besok, aku ajak kamu ke taman wisata alam Punti Kayu deh. Terus ke taman pelangi, ke pulau kemaro, ke gelora sriwijaya. Hehe." Aku makin melongo mendengar kata-kata yang keluar dari bibir Rio.
"Kamu baik-baik aja kan, Yo?" Tanyaku masih bingung. Ia mengangguk mantap. "Okay. Aku mau. Makasih ya, Yo!" Jawabku. "Hehehe. Tapi, suatu saat kalau aku ke Lampung, kamu juga harus ajak aku jalan-jalan yaa!" Aku tertawa mendengarnya, ternyata ada maunya juga. Hihi. Hari itu, hari pertama kulihat sosok yang berbeda dalam diri Linko Derio. Ia jadi lebih... Manis.
-----
Kala kanvas dan kuas bertemu, akankah menjadi lukisan yang memiliki makna?
Setelah sekitar 2 bulan yang lalu Rio mengajakku ke benteng kuto besak. Hari ini, pagi-pagi sekali ia sudah mengirimkan sebuah pesan suara melalui chat bbm. Aku yang baru saja terbangun langsung berteriak kegirangan saat mendengar pesan suara Rio berisi ucapan selamat pagi dan mengajakku pergi. Memang, sejak hari itu, hubungan kami menjadi baik. Ia sering mengirimkan chat hanya untuk sekedar bertanya masalah tugas atau apapun. Aku langsung membalas ucapannya. Selang berapa lama, layar ponselku berubah menjadi panggilan dengan nama Rio.
"Ha.. Haloo, Yo?" Sapaku pelan.
"Hai, Pikachu! Baru bangun ya? Siap-siap ya. Nanti aku jemput. See you!" Aku mengangguk, padahal jelas saja Rio tak bisa melihat gerak tubuhku. Kuiyakan perkataannya lalu setelah sambungan telpon terputus, aku meloncat menuju kamar mandi. Aku siap!
Satu jam berlalu, aku telah duduk diteras rumah, menunggu kedatangan Rio. Taklama, terlihat mobil Honda Jazz biru berhenti di halaman depan rumahku. Rio tersenyum. Aku berlari kecil arahnya.
"Selamat tukuk, Pikachu.." (Selamat pagi) Rio menyapaku menggunakan bahasa Lampung. Aku tertawa.
"Kamu belajar dimana, Yo?" Aku berjalan kearah pintu mobil sebelah kiri lalu masuk.
"Belajar.. Dihati kamu. Hahahaha bercanda. Aku iseng aja cari di google hehe." Rio tertawa sambil menggaruk tengkuknya. Ia mulai memajukan mobilnya, melintasi hiruk pikuk kota Palembang.
15 menit kemudian, kami sampai di pinggir sungai musi. Rio memarkirkan mobilnya dan mengajakku turun.
"Kita mau ke pulau kemaro, harus nyebrang pakai perahu kecil itu. Yukk!" Rio menarikku, tangannya mengenggam tangangku menuju penyewaan transportasi air itu. Aku duduk disamping Rio. Mataku menelaah sungai musi. Baru pertama kali bagiku, naik perahu melintasi sungai musi. Dan, Rio yang pertama kali mengajakku. I'm so happy because of you, Yo!.
Rio mengajakku turun saat kami tiba di pulau kemaro. Ternyata di pulau kemaro terdapat sebuah vihara. Di sini juga ditemukan sebuah makam yang merupakan makam dari seorang putri Palembang. Putri ini mempunyai cerita tersendiri, yaitu dia menikah dengan anak raja dari China dengan mas kawin berupa 9 guci emas, namun pada akhirnya pasangan tersebut menerjunkan diri ke sungai dan tenggelam. Dan sekarang, aku dan Rio sudah berdiri tepat didepan sebuah pohon.
"Mau ngapain, Yo?" Tanyaku pada Rio. Rio tersenyum.
"Ngukir nama." Rio berjalan kearah pohon itu dan mulai mengukir. Aku yang tak tau apapun, hanya diam memperhatikan Rio. Ia berdiri dan tersenyum puas melihat hasil ukirannya.
"Pikachu dan Derio." Aku membaca ukiran yang dibuat Rio, lalu mengernyit.
"Ini pohon cinta. Orang percaya bila sepasang kekasih mengukir namanya di pohon cinta ini, maka hubungan cinta mereka akan berlanjut sampai dengan pernikahan. Hehe" jawab Rio polos. Aku melongo.
"Sepasang kekasih? Pernikahan?" Tanyaku bingung. "Pikachu, itu aku kan?" Tanyaku. Rio tertawa melihat ekspresiku.
"Siapa lagi?" Katanya santai. Aku terdiam mencerna. Kurasakan pipiku memanas. Rio apaan sih! Hahaha. Aku pura-pura berbalik arah dan melihat-lihat yang lain. Rio mengejarku. "Hehehe. Kan aku iseng. Kalau kenyataan ya bagus. Kalau enggak, semoga aja jadi iya."
Aku yang berada disampingnya, makin menjadi salah tingkah. Bisa banget sih lelaki satu ini. Ugh.
-----
Kala lirik telah tertulis, dan nada-nada telah dimainkan, akankah menjadi sebuah lagu yang utuh?
Tak terasa. Sudah memasuki 6 semester perkuliahanku disini. Hubunganku dan Rio makin menjadi baik. Hampir setiap hari ia menyapaku dan tersenyum padaku. Bahkan hampir setiap weekend, Rio selalu mengajakku pergi hanya untuk sekedar cuci mata, katanya. Tetapi, kami tidak terikat sebuah hubungan. Hanya sebatas teman dekat. Ya, entahlah. Meski perasaanku pada Rio masih sama, aku baik-baik saja walau tak ada status diantara kami.
"Pikachuuuuuu!" Panggilnya saat aku sedang berjalan menuju kelas. Oh ya, ia masih saja dengan panggilannya itu. Bahkan belum pernah sama sekali aku mendengarnya menyebut nama asliku. Sejujurnya, aku ingin tau alasan Rio memanggilku Pikachu. Aku melambaikan tangan padanya.
"Fy! Antarin aku sebentar ke parkiran. Mau ketemu kak Reza. Please. Sebentar aja." Tiba-tiba Yeyen menarikku cepat. Aku hanya berjalan mengikutinya. Gadis itu tersenyum menemui kak Reza. Lelaki itu mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya, yang kukira itu adalah sebuah kotak dengan pita diatasnya. Yeyen menjerit senang, Reza mencubit pipi Yeyen gemas. Mereka memang cocok, hubungan yang sudah terjalin 2 tahun lebih itu juga jarang bertengkar. Ughhh, aku jadi iri..
Aku berjalan-jalan disekitar parkir kampus, meninggalkan Yeyen yang masih asyik dengan kekasihnya. Aku duduk di bangku dibalik pohon lebat yang memanjang seperti pagar, dan terdapat bangku di kedua sisinya. Saat tiba-tiba kudengar.
"Rio...." Suara seorang gadis dari balik tempatku duduk. "2 tahun lebih kamu dekat dengan Ify. 2 tahun kamu panggil dia Pikachu. 2 tahun kamu nggak ada status dengan dia..." Lanjut gadis itu.
"Terus kenapa, Cha?" Jawab seorang lelaki yang kutahu itu suara Rio.
"Jangan jadiin Ify pelarian, Yo! Pikachu. Iya Pikachu yang sering kamu panggil untuk Ify. Itu kan panggilan sayang kamu ke Putri dulu!" Deg... Aku terdiam. Pelarian? Putri? Maksudnya apa?
"Jangan karena Ify mirip dengan Putri, kamu jadi manfaatin dia dan aplikasikan dia sebagai sosok Putri, Yo. Sadar! Putri sudah lama pergi. Sudah 4 tahun, Yo! Aku yakin sahabatku pasti nggak mau liat kamu kaya gini. Tolong, Yo. Anggap Ify itu adalah Ify. Bukan Putri!" Lanjut gadis itu. Aku terdiam mendengar semua penuturan gadis itu. Aku kenal suaranya, itu Eliza, Icha.
"Terserah aku, Cha! Setidaknya saat aku dekat dengan dia. Aku selalu ngerasa Putri masih ada. Jangan atur-atur aku!" Rio mulai menaikan nada suaranya.
"Yo sadar! Pikachu itu Putri. Bukan Ify. Jangan panggil Ify dengan sebutan itu lagi. Anggap Ify sebagai Ify, bukan Putri!" Icha memelankan suaranya, kudengar isak tangis gadis itu. Kuduga, Icha adalah sahabat dekat Putri. Aku tertawa tanpa suara. Jadi, alasan Rio memanggilku dengan sebutannya itu, karena aku ini mirip kekasihnya dulu yang sekarang telah pergi. Jadi, selama ini, Rio nggak pernah benar-benar lihat aku sebagai Ify.
Aku berdiri, hendak melangkahkan kakiku sampai tiba-tiba Yeyen menjerit memanggilku.
"IFYY. Aku cariin juga. Kemana aja sih!" Teriaknya keras, dan kuyakin Rio yang berada tepat dibelakangku, hanya berbatas pohon lebat dapat mendengar teriakan Yeyen. Aku berjalan menuju Yeyen. Dapat kudengar Rio memanggilku.
"Pikachu!!" Aku berjalan cepat menarik Yeyen. Sejak awal aku salah, memuja dan mendamba senyum dan matamu, Yo.
-----

Kala angin berhembus, membawa sejuta kepingan halus, ini takkan sama lagi.
Sejak beberapa bulan yang lalu kejadian itu. Aku selalu menghindar dari Rio. Semua telpon, sms, chat aku abaikan. Sengaja aku atur ulang jadwal kuliahku, agar tak sekelas dengan Rio. Berbagai cara ia lakukan agar bisa berbicara langsung padaku. Selalu aku gagalkan. Ini hati, Yo. Bukan mainan.
Aku sedang duduk di taman kampus, menunggu Yeyen. Hari ini adalah hari pertama di semester 7. Memasuki tahun keempat aku berada disini. 2 tahun lebih, aku dekat dengan Rio. 2 tahun lebih itu juga aku menjadi pelarian seseorang yang selama ini kudamba. Aku mengingat saat Rio mengukir nama di pohon cinta pulau kemaro. Pikachu? Pikachu itu aku atau Putri, Yo? Hahaha. Ternyata itu alasannya. Sakitnya tuh, disini. Di dalam hatiku.
"Pikachu.." Rio tiba-tiba duduk disebelahku. Aku meraih tasku ingin beranjak. Rio menahan tanganku. "Dengarin, sebentar aja. Aku mau menjelaskan semuanya. Please." Aku melepaskan tangan Rio dan menunduk.
"Apa yang kamu dengar waktu itu, memang nggak sepenuhnya salah. Benar yang Icha katakan waktu itu. Benar aku menganggap kamu mirip dengan Putri. Tapi nggak benar jika aku menjadikan kamu pelarian. Please, Putri sudah lama pergi, dia juga sudah lama pergi dari hatiku. Aku mohon, percaya sama aku Leifya Deriza...." Rio menyebutkan nama lengkapku. Pertama kali kudengar ia menyebutkannya. Setetes air mata jatuh.
"Tolong percaya aku. Soal panggilan Pikachu itu karena memang aku menyukainya. Aku memanggil seseorang yang kusayang dengan sebutan itu. Percaya aku, Pikachu..." Rio meraih tanganku. Aku membiarkannya. "Please, aku nggak mau jauh dari kamu. Bisa kan kita dekat seperti dulu lagi?" Lanjutnya. Aku tersenyum. Kamu kira mudah, Yo?
"Nggak bisa, Yo. Semua cukup sampai sini. Dari awal, aku yang salah, mendambamu." Aku berkata pelan dan meninggalkan Rio.
-----
Kala musim terus berganti, membawa dingin menjadi terik. Aku, berhenti.
Hubunganku dan Rio benar-benar putus. Aku tak tau tentang kabarnya sama sekali. Meskipun pernah beberapa kali bertemu, aku selalu menghindar, menjauh dan berusaha menghilangkan semua pikiranku tentangnya. Apapun itu. Beberapa bulan belakangan ini, aku disibukkan dengan urusan skripsi. Dan sekarang, aku sedang menunggu hari dimana ujian skripsi itu akan dilaksanakan. Rasanya, aku ingin cepat-cepat pergi dari kota ini, kembali ke kampung halamanku, Lampung.
"Ifyku sayang. Kagek kalo kau balek ke Lampung. Jangan lupo samo aku!! Aydah, sedih nian laju aku nih nak bepisah dengan kau." (Ifyku sayang. Nanti kalau kamu pulang ke Lampung. Jangan lupa sama aku!! Aduh, sedih banget aku ini mau berpisah sama kamu.) Yeyen memelukku erat. Sekarang aku sedang berada di kamar Yeyen. Gadis itu juga akan melaksanakan ujian skripsi beberapa hari setelah aku. Hubungannya dengan kak Reza pun masih berlanjut meskipun sekarang kak Reza sudah bekerja.
"Lebay deh, Yen. Nanti makanya kamu ikut aku ke Lampung. Janji deh aku ajak jalan-jalan. Ke pantai pasir putih? Atau ke pantai mutun? Atau mau ke taman way kambas? Kemana deh sebutin. Aku anterin hahahaha." Aku merangkul Yeyen.
"Janji?" Aku mengangguk. "Aku mau ke mana itu Fy, yang ada lumba-lumba nyaaa itu!" Yeyen semangat.
"Ohhh teluk kiluan? Iya iya kamu nanti aku ajak kesana deh. Lumba-lumbanya keren banget, Yen. Apalagi waktu sunshine atau sunset. Keren!" Aku menjawab pertanyaan yeyen.
"Iyaa, Fy! Terus aku mau foto di menara siger yang ada di bakauheni itu. Keren kan ya foto di ikon gerbang masuk pulau sumatra! Aaaahh Ify aku mau ke Lampung! Terus nonton atraksi gajah di way kambas. Nyebrang ke pulau tangkil di pantai mutun. Naik banana boat. Hahaha." Yeyen tertawa lalu memelukku.
"Hahaha gampang, Yen. Makanya kamu ikut aku ke Lampung deh." Jawabku.
Kami berdua tertawa, lalu berbaring diatas kasur Yeyen. Mengulang kembali cerita 4 tahun yang lalu saat kami baru saling kenal. Tak terasa, waktu berjalan begitu cepat. Sebentar lagi, aku akan meninggalkan kota ini. Meninggalkan semua kenangan indah selama 4 tahun disini. Meninggalkan pengalaman yang takkan pernah kulupa. Ah, terima kasih Yeyen, kamu menjadi satu-satunya yang aku cari disini, saat aku kehilangan arah. Terima kasih Palembang, untuk pengalaman indah selama 4 tahun ini. Dan.. Terima kasih, Rio, untuk semua kebahagiaan dan kesakitan ini. Suatu saat aku akan kembali, ke kota ini, kota pempek, venice of the East. Bumi sriwijaya. Aku mencintai kalian.
-----
Kala kesunyian menjadi ramai, kala gelap menjadi terang, saat itulah aku kembali.
Aku melangkahkan kakiku keluar dari bandara Raden Inten, Lampung.
"Lampung! I'm back!!!!" Teriakku. Segera kupanggil taksi dan menuju bandar lampung. Aku rindu papa, aku rindu mama, aku rindu adikku.
Setengah jam perjalanan. Aku sampai di rumahku. Rumah nyamanku. Tempat aku dibesarkan mama dan papa.
"Assalamualaikum. Papa, mama.. Atu mulang.." (Papa, mama, kakak pulang) Aku berlari masuk kedalam rumahku, saat kulihat pintu rumah terbuka lebar. Kulihat orangtua dan adikku sedang duduk santai di ruang tv.
"Atu, jamow sapa?" (Kakak, sama siapa?) Mamaku segera berlari memelukku. Aku memeluk mama erat, lalu bergantian dengan papa dan adikku.
"Atu (kakak) sendirian ma. Sengaja nggak kasih tau mama papa biar kejutan! Hehehehe" aku memeluk mamaku lagi. Papa menggeret koporku masuk kedalam kamar.
"Mulei lunik papa ghadeu mulang. Nyo kabagh? Hahahaha." (Gadis kecil papa sudah pulang. Apa kabar? Hahaha) aku tersenyum. Lalu memeluk papa dari belakang. Padahal baru 3 minggu yang lalu mereka menghadiri acara wisudaku di Palembang. Tetapi rasa rindu ini memang sangat kurasakan.
"Atu mau cari kerja disini aja ya, pa." Kataku pada papa. Papa tersenyum.
"Papa sih terserah atu mau dimana. Kalau atu maunya di Lampung, malah bagus. Berarti papa nggak perlu nahan kangen terus sama gadis kecil papa satu ini." Papa mengacak rambutku. Mama hanya tersenyum melihat keakrabanku dan papa.
"Atu mak ngighram jamow sekham?" (Kakak nggak kangen sama aku?) Adikku tiba-tiba memasang wajah sebal. Aku tertawa melihatnya, lalu langsung kupeluk adikku satu-satunya itu.
"Kangen kok sama Rafa. Gimana sekolahnya? Dapat rangking berapa?" Aku mencubit pipi adikku yang duduk di kelas 6 sekolah dasar itu. Ia masih cemberut. "Ih cemberut aja. Nggak atu kasih lempok (dodol durian) dari Palembang nanti!" Ia langsung merubah wajahnya menjadi senyum. Aku tertawa. Kulihat papa dan mama juga tertawa.
"Atu ghadeu mengan?" (Kakak sudah makan?) Tanya mama. Aku menggeleng. Mamaku segera beranjak menuju dapur. Papa kembali duduk disamping Rafa. Aku segera menuju kamarku.
"Nyo kabagh kamar sekham?" Bisikku pada kamar yang sudah sangat kurindukan ini. Aku segera menuju kamar mandi untuk mandi dan bersiap makan malam. Mama pasti masak ceruit (sambal khas Lampung).
----
Kala waktu berputar, tahun berganti. Dibelakangnya, aku mengikuti.
3 bulan sudah aku bekerja di sebuah perusahaan swasta yang ada di Lampung. 3 bulan juga aku meninggalkan kota rantauku, Palembang.
"Fy, hari ini Tul ngajak jalan kan?" Harisa, teman SMAku dulu, yang kebetulan satu tempat kerja denganku berkata. Aku mengangguk. "Si Dinie, Nadia, Dwi, Gita, Ranita, Cintya, Ara juga ikut sih katanyaa."
"Rame dong!" Kataku semangat. Harisa mengangguk.
"Ngomong-ngomong. Selama di Palembang 4 tahun. Nggak mungkin kan kamu nggak deket sama seorang lelaki gitu hahaha..." Phely menggodaku. Aku tersenyum. Sekilas, bayang-bayang tentang Rio muncul lagi. Lelaki yang dulu begitu dekat denganku, apa kabarnya sekarang ya? Apa ia masih sama? Ah, Rio. Sosok itu. Aku rindu. "Fy... Ih kok malah bengong sih.."
"Hehehe. Nggak ada Cha." Aku menjawab pertanyaan Harisa atau sering disapa Icha itu sambil tertawa. Icha menyipitkan matanya.
"Bohong! Mata kamu tuh nggak bisa bohong, Fy. Pernah ada seseorang yang ngisi hati kamu kan?" Kata Icha, sok tau. Aku mengernyit. Lalu mencubit pipinya gemas.
"Hehehe udah ah lupain, Cha. Ngomong-ngomong Phely sama Sari apa kabar?" Tanyaku pada Icha. Phely dan Sari adalah teman SMA kami juga. Tetapi mereka lebih dekat dengan Icha daripada aku.
"Oh, Phely sama Sari sekarang sih di Jakarta. Udah kerja juga sih. Kabarnya si Phely tahun depan mau nikah deh, Fy." Kata Icha santai. Aku membulatkan mata, ah lama tak bertemu dengan 2 temanku itu.
-----
Kala pagi berganti, dan malam datang, aku masih setia.
"Fy. Nggak mau ikut naik banana boat?" Tanya Dwi padaku, aku menggeleng. Saat ini aku dan teman-temanku sedang berada di pantai mutun, Lampung. Aku duduk di gubuk yang terdapat di sepanjang pinggir pantai.
"Yeyen apa kabar, ya?" Aku memainkan jariku diatas layar ponselku. Taklama ada sahutan dari Yeyen.
"Halo. Nyo kabagh, Yen?" (Halo. Apa kabar, Yen?) Aku tertawa kecil saat mendengar dumelan Yeyen karna tak mengerti apa yang kubicarakan. "Hehehe, apa kabar, Yeyen kusayang?"
"Aku baik, Fy. Gimana kamu? Udah punya pengganti hati belum?" Tanya yeyen to the point. Aku merengut.
"Pengganti hati? Apaan sih yen! Hahaha" aku asyik berbincang dengan Yeyen selama kurang lebih 20 menit. Teman-temanku masih belum juga kembali, kulihat mereka sudah 3 kali naik banana boat. Nggak capek apa ya. Ugh.
Aku melangkahkan kakiku, menelusuri pinggir pantai, lalu duduk di bawah pohon kelapa tak jauh dari gubukku tadi. Angin berhembus meniup rambutku. Aku menunduk, mengambil sebatang ranting, lalu mulai mengukir nama di pasir pantai itu.
'Pikachu & Rio'
Hah? Apaansih. Kenapa aku malah mengukir nama yang sama dengan yang diukir Rio pada pohon cinta. Aku melenguh. Hatiku, merindukannya. Lelaki tengil yang dulu kudamba senyum dan matanya. Aku memejamkan mata. Merasakan pelukan alam melalu pantai indah ini.
"Deras hujan yang turun. Mengingatkanku pada dirimu. Aku masih disini untuk setia..." Aku mendengar lantunan lagu lama itu. Suara halus dan lembut memenuhi pendengaranku.
"Selang waktu berganti. Aku tak tahu engkau dimana. Tapi aku mencoba untuk setia..." Aku masih asyik mendengarkan lantunan lagu itu. Segera aku berdiri dan mencari sumber suara itu. Kulihat seseorang memeluk gitar dan berada tak jauh dariku. Ia membelakangiku. Aku melangkah kearahnya, menatap tubuhnya dari belakang. Tubuh itu.. Mirip seseorang..
"Sesaat malam datang. Menjemput kesendirianku.... Dan bila pagi datang.. Kutahu, kau tak disampingku..." Suaranya halus dan indah. "Aku masih disini untuk setia......." Aku makin mantap melangkahkan kakiku menuju lelaki itu.
"Ooohh, aku.. Masih disini.. Untuk setia..." Ia mengakhiri nyanyiannya dan meletakkan gitar itu tepat disebelahnya. Lelaki itu menunduk. Aku tak tau apa yang di lakukannya. Dan sekarang, aku telah berdiri di belakangnya.
"Rio....." Gumamku pelan, yang ternyata dapat didengar oleh lelaki itu. Ia menoleh dan membulatkan matanya.
"Ify?!" Ia meneriakkan nama panggilanku. Aku tersenyum lebar, air mataku menetes. Rio berdiri dari duduknya dan mendekat kearahku.
"Kamu, ngapain ke Lampung?"
"Mencari kamu, Pikachu.."
----
Kala sebuah lagu tercipta, lukisan mempunyai makna. Aku dan kamu, menjadi indah.
Teluk Kiluan, 06 Desember 2013.
Pagi-pagi sekali, Rio sudah menculikku dari rumah. Herannya, papa dan mama sama sekali tidak melarang. Mereka membolehkan saja anak gadisnya ini dibawa pergi oleh Rio. Huft. Rio nggak tau aku masih ngantuk?
"Mau kemana sih, Yo? Masih jam 4 subuh." Gerutuku. Rio hanya diam. Rio sudah 6 bulan bekerja di Lampung. Ia lebih memilih tinggal di dekatku, daripada berada di kota kelahirannya, Palembang. Hehe. Aku sedikit salah tingkah waktu ia mengatakan hal itu padaku.
Aku merebahkan diriku di jok sebelah kiri mobil Rio, dan tertidur pulas. Biar saja, Rio menyetir sendiri. Aku masih ngantuk.
"Pikachu. Bangun! Sudah sampai nih!" Rio mencubit hidungku. Aku menggeliat dan segera membuka mataku, saat kulihat didepanku ada banyak lumba-lumba sedang meloncat-loncat di air. Ah teluk kiluan. Aku menatap Rio, ia tersenyum. Aku segera keluar dari mobil Rio dan menyaksikan langsung lumba-lumba meliuk-liukkan tubuhnya. Ah, how a happy I'm.
Tiba-tiba, setangkai mawar merah dan tangan Rio muncul dihadapanku. Aku menoleh kearah Rio yang sedang tersenyum.
"Mulai hari ini. Kamu resmi, Pikachuku selamanya!" Tegasnya. Tak dapat dibantah. Aku tertawa lalu mencubit pinggangnya keras. Ia mengaduh. Aku berlari menjauhinya. Kulihat Rio tertawa lalu ikut mengejarku.
"Makasih, Yo. Sudah membuatku percaya akan semua tentang kamu." Jawabku langsung saat ia berhasil menangkapku dan mencubit hidung bangirku. Rio hanya mengangguk dan tersenyum lebar.
Ah. Sekham sayang jamow nikew, Linko Derio. (Aku sayang sama kamu, Linko Derio) Si pemilik senyum dan mata indah.
-End-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar